Pahala Membaca Al-Qur'an: Hadis tentang Keutamaan Menghafal dan Mengajarkannya

Hadis tentang keutamaan menghafal Al-Qur'an dan pahala mengajarkannya. Ulasan matan riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash dan Abu Umamah Al-Bahili.

Indonesia 8 menit baca

Pahala Membaca Al-Qur'an: Hadis tentang Keutamaan Menghafal dan Mengajarkannya

Pengantar

Menghafal Al-Qur'an bukan sekadar aktivitas mengingat huruf dan ayat. Dalam sejumlah riwayat, para sahabat menggambarkan penghafal Al-Qur'an sebagai orang yang memikul amanah besar. Riwayat berikut memperlihatkan sisi lain dari keutamaan itu, yakni akhlak yang melekat pada diri ahlul Qur'an.

Ulasan ini bersumber dari satu kitab hadis yang memuat bab keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Redaksi Arab dikutip apa adanya melalui teks aslinya. Penjelasan di bawah ini hanya membaca matan yang tersedia di halaman sumber.

Ada dua riwayat yang dibahas di sini. Riwayat pertama berupa perkataan sahabat. Riwayat kedua diangkat kepada Nabi ﷺ. Keduanya ditempatkan dalam satu kerangka pembahasan yang sama, yaitu memuliakan Al-Qur'an dan orang yang membawanya.

Pembahasan dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama membahas riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Bagian kedua membahas riwayat Abu Umamah Al-Bahili. Bagian ketiga membahas bab keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Bagian terakhir merangkum poin-poin yang dapat ditarik dari kedua riwayat.

Hadis Abdullah bin Amr bin Al-Ash tentang Pemikul Al-Qur'an

Riwayat pertama datang dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Ia menyampaikan sebuah perkataan yang menempatkan penghafal Al-Qur'an pada kedudukan istimewa. Teks aslinya berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: «⦗٥٦⦘ مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ فَقَدْ حَمَلَ أَمْرًا عَظِيمًا، لَقَدْ أُدْرِجَتِ النُّبُوَّةُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ، فَلَا يَنْبَغِي لِحَامِلِ الْقُرْآنِ أَنْ يَحِدَّ مَعَ مَنْ يَحِدُّ، وَلَا يَجْهَلْ مَعَ مَنْ يَجْهَلُ؛ لِأَنَّ الْقُرْآنَ فِي جَوْفِهِ» (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 55)

Kalimat pertama menegaskan bahwa siapa yang mengumpulkan Al-Qur'an berarti memikul perkara yang besar. Frasa mengumpulkan di sini merujuk pada menghafal dan menampung seluruh isi Al-Qur'an dalam dirinya.

Bagian berikutnya menyebut bahwa kenabian seakan diletakkan di antara kedua pundaknya, hanya saja wahyu tidak turun kepadanya. Ini adalah ungkapan penghormatan, bukan pemberian status kenabian. Seorang penghafal menyimpan sesuatu yang berat dan mulia, namun ia tetap manusia biasa yang tidak menerima wahyu.

Ungkapan itu juga mengandung isyarat tentang beban. Pundak adalah bagian tubuh yang menanggung beban. Meletakkan sesuatu di antara kedua pundak berarti menempatkan beban itu pada posisi yang sangat dekat dan sangat terasa. Penghafal Al-Qur'an membawa beban kemuliaan sekaligus beban tanggung jawab.

Akhlak yang Melekat pada Pemikul Al-Qur'an

Dari matan yang sama, muncul pesan akhlak yang tegas. Pemikul Al-Qur'an tidak sepantasnya ikut marah ketika orang lain marah. Ia juga tidak sepantasnya berbuat bodoh ketika orang lain berbuat bodoh. Alasannya sederhana dan disebutkan di akhir riwayat: karena Al-Qur'an berada di dalam rongganya.

Pesan ini menautkan hafalan dengan perilaku. Orang yang menyimpan kalam Allah di dadanya dituntut menjaga ucapan dan sikapnya. Marah dan bertindak bodoh bertentangan dengan isi yang ia bawa.

Perlu dicatat, riwayat ini berstatus sebagai perkataan Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bukan sabda Nabi ﷺ. Meski demikian, maknanya sejalan dengan banyak hadis lain tentang adab ahlul Qur'an. Pembaca dapat memahami riwayat ini sebagai nasihat sahabat kepada para penghafal Al-Qur'an.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari redaksi riwayat ini. Kata rongga merujuk pada dada atau jauf. Al-Qur'an tidak hanya dihafal di kepala, tetapi juga disimpan di dalam dada. Bahasa ini mengingatkan bahwa hafalan yang benar menyatu dengan diri pemiliknya, bukan sekadar tempelan di luar.

Hadis Abu Umamah Al-Bahili tentang Pahala Membaca Al-Qur'an

Riwayat kedua disampaikan oleh Abu Umamah Al-Bahili dan diangkat kepada Nabi ﷺ. Teks aslinya berbunyi:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ يَرْفَعُهُ قَالَ: «مَنْ قَرَأَ رُبُعَ الْقُرْآنِ فَقَدْ أُوتِيَ رُبُعَ النُّبُوَّةِ، وَمَنْ قَرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فَقَدْ أُوتِيَ ثُلُثَ النُّبُوَّةِ، وَمَنْ قَرَأَ ثُلُثَيِ الْقُرْآنِ فَقَدْ أُوتِيَ ثُلُثَيِ النُّبُوَّةِ، وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدْ أُوتِيَ النُّبُوَّةَ» (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 57)

Matan ini memakai perumpamaan bertingkat. Membaca seperempat Al-Qur'an disebut setara dengan diberi seperempat kenabian. Membaca sepertiga setara dengan sepertiga kenabian. Membaca dua pertiga setara dengan dua pertiga kenabian. Membaca seluruh Al-Qur'an setara dengan diberi kenabian secara utuh.

Cara Membaca Perumpamaan Ini

Ungkapan diberi kenabian dalam matan ini tidak boleh dipahami sebagai pemberian status nabi. Kenabian telah tertutup. Para ulama membaca redaksi semacam ini sebagai bentuk penekanan pada kemuliaan Al-Qur'an dan besarnya pahala membacanya.

Perumpamaan bertingkat juga menunjukkan bahwa keutamaan itu sejalan dengan porsi yang dibaca. Semakin banyak bagian Al-Qur'an yang dibaca, semakin besar pula keutamaan yang disebutkan. Ini menjadi dorongan untuk memperbanyak tilawah, bukan sekadar membaca seadanya.

Riwayat ini juga memuat isyarat tentang keutamaan menghafal. Seseorang yang membaca seperempat, sepertiga, hingga seluruh Al-Qur'an dalam konteks riwayat ini mengandaikan penguasaan atas bagian yang dibacanya. Karena itu, para penghafal Al-Qur'an berada dalam lingkup keutamaan yang disebutkan.

Satu hal lain perlu digarisbawahi. Redaksi hadis ini memakai bahasa perumpamaan, bukan penetapan hukum. Pembaca yang cermat akan menangkap pesan utamanya, yaitu besarnya nilai bacaan Al-Qur'an di sisi Allah, bukan penetapan kedudukan baru bagi pembacanya.

Pemakaian perumpamaan semacam ini lazim dalam sabda Nabi ﷺ. Tujuannya mendekatkan makna yang sulit dijangkau akal dengan gambaran yang mudah dipahami. Karena itu, pembaca tidak perlu menuntut kesetaraan makna secara harfiah antara porsi bacaan dan porsi kenabian.

Bab Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-Qur'an

Kitab sumber memuat satu bab khusus dengan judul yang jelas. Teks aslinya berbunyi:

بَابُ فَضْلِ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61)

Judul bab ini menempatkan dua hal berdampingan: belajar dan mengajarkan. Keduanya tidak dipisahkan. Seseorang yang mempelajari Al-Qur'an lalu mengajarkannya berada dalam keutamaan yang disebutkan bab tersebut.

Pahala mengajarkan Al-Qur'an dalam kerangka ini bukan pahala kecil. Mengajarkan Al-Qur'an berarti meneruskan ilmu yang paling mulia. Setiap orang yang belajar dari seorang guru akan membawa manfaat yang berantai. Guru tidak kehilangan pahala karena muridnya juga mendapat pahala.

Kaitan dengan Sanad dan Talaqqi

Belajar dan mengajarkan Al-Qur'an dalam tradisi ahlul Qur'an tidak berjalan tanpa guru. Ilmu ini diwariskan melalui talaqqi, yakni belajar langsung dari mulut guru. Proses musyafahah, bertatap muka dan saling menyimak, menjaga bacaan tetap sesuai riwayat.

Dari sanalah terbentuk sanad, rantai periwayatan yang menyambung sampai Rasulullah ﷺ. Seorang pengajar yang memiliki ijazah biasanya meneruskan bacaan yang ia terima melalui sanad tersebut. Ini menjelaskan mengapa bab belajar dan mengajarkan Al-Qur'an menempati posisi penting dalam kitab hadis.

Bacaan yang diwariskan dengan cara ini mencakup beberapa riwayat, seperti bacaan menurut As-Syatibiyyah, Ad-Durrah, dan Thayyibah An-Nashr. Semuanya dipelajari melalui talaqqi dan musyafahah, bukan sekadar dari buku. Karena itu, seorang pengajar perlu memastikan bacaan yang ia ajarkan benar-benar sampai kepadanya melalui jalur yang tersambung.

Pahala Menghafal dan Mengajarkan Al-Qur'an

Dari dua riwayat di atas, beberapa poin dapat ditarik. Pertama, menghafal Al-Qur'an adalah amanah besar. Kedua, hafalan menuntut akhlak yang sesuai. Ketiga, membaca Al-Qur'an memiliki keutamaan yang bertingkat sesuai porsi bacaan. Keempat, belajar dan mengajarkan Al-Qur'an termasuk keutamaan yang ditegaskan dalam bab tersendiri.

Pahala mengajarkan Al-Qur'an tidak diukur dari jumlah murid saja. Yang lebih penting adalah kesinambungan ilmu dan keikhlasan pengajar. Seorang pengajar yang mengajarkan satu huruf dengan benar sudah menunaikan bagian dari amanah itu.

Menghafal Bukan Tujuan Akhir

Matan Abdullah bin Amr bin Al-Ash mengingatkan bahwa hafalan bukan tujuan akhir. Hafalan harus tampak dalam sikap. Penghafal Al-Qur'an yang marah dan berbuat bodoh seperti orang lain berarti belum menampakkan isi yang ia bawa.

Karena itu, menghafal dan mengajarkan Al-Qur'an berjalan seiring dengan perbaikan akhlak. Inilah yang disebut akhlak ahlil Qur'an dalam banyak pembahasan ulama. Riwayat di atas memberi dasar tekstual untuk gagasan tersebut.

Catatan tentang Sumber

Seluruh kutipan dalam artikel ini diambil dari satu kitab hadis yang memuat bab keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an. Halaman sumber memuat riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash pada halaman 55 sampai 56, riwayat Abu Umamah Al-Bahili pada halaman 57, dan judul bab pada halaman 61.

Pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh dapat merujuk langsung ke halaman tersebut. Artikel ini tidak menambahkan penilaian derajat hadis di luar yang tertulis di sumber. Pembahasan tentang sanad dan perawi sebaiknya merujuk pada kajian khusus.

FAQ

Apa keutamaan menghafal Al-Qur'an menurut riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash?

Riwayat itu menyebut bahwa orang yang mengumpulkan Al-Qur'an telah memikul perkara besar. Kenabian seakan diletakkan di antara kedua pundaknya, hanya saja wahyu tidak turun kepadanya.

Apakah hadis Abu Umamah Al-Bahili berarti penghafal Al-Qur'an mendapat status nabi?

Tidak. Ungkapan diberi kenabian adalah perumpamaan untuk menekankan besarnya keutamaan. Kenabian telah tertutup, dan tidak ada wahyu baru setelah Rasulullah ﷺ.

Bagaimana akhlak yang seharusnya dimiliki pemikul Al-Qur'an?

Matan riwayat menyebut pemikul Al-Qur'an tidak sepantasnya ikut marah ketika orang lain marah. Ia juga tidak sepantasnya berbuat bodoh ketika orang lain berbuat bodoh, karena Al-Qur'an berada dalam rongganya.

Mengapa belajar dan mengajarkan Al-Qur'an disebut dalam satu bab?

Judul bab menempatkan keduanya berdampingan. Belajar tanpa mengajarkan akan terputus, sedangkan mengajarkan tanpa belajar dengan benar akan menyimpang. Keduanya saling melengkapi.

Apa peran sanad dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur'an?

Sanad menjaga bacaan tetap tersambung sampai Rasulullah ﷺ. Pewarisan bacaan berjalan melalui talaqqi dan musyafahah, bukan sekadar membaca buku. Karena itu, seorang pengajar biasanya meneruskan bacaan yang ia terima dari gurunya.

Referensi

  • أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 55, 57, 61

Pertanyaan umum

Apa keutamaan menghafal Al-Qur'an menurut riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash?

Riwayat itu menyebut bahwa orang yang mengumpulkan Al-Qur'an telah memikul perkara besar. Kenabian seakan diletakkan di antara kedua pundaknya, hanya saja wahyu tidak turun kepadanya.

Apakah hadis Abu Umamah Al-Bahili berarti penghafal Al-Qur'an mendapat status nabi?

Tidak. Ungkapan diberi kenabian adalah perumpamaan untuk menekankan besarnya keutamaan. Kenabian telah tertutup, dan tidak ada wahyu baru setelah Rasulullah ﷺ.

Bagaimana akhlak yang seharusnya dimiliki pemikul Al-Qur'an?

Matan riwayat menyebut pemikul Al-Qur'an tidak sepantasnya ikut marah ketika orang lain marah. Ia juga tidak sepantasnya berbuat bodoh ketika orang lain berbuat bodoh, karena Al-Qur'an berada dalam rongganya.

Mengapa belajar dan mengajarkan Al-Qur'an disebut dalam satu bab?

Judul bab menempatkan keduanya berdampingan. Belajar tanpa mengajarkan akan terputus, sedangkan mengajarkan tanpa belajar dengan benar akan menyimpang. Keduanya saling melengkapi.

Apa peran sanad dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur'an?

Sanad menjaga bacaan tetap tersambung sampai Rasulullah ﷺ. Pewarisan bacaan berjalan melalui talaqqi dan musyafahah, bukan sekadar membaca buku. Karena itu, seorang pengajar biasanya meneruskan bacaan yang ia terima dari gurunya.