Keutamaan Ahlul Qur'an: Menelusuri Hadis-Hadis pada Awal Kitab Akhlak Ahlil Qur'an
Hadis-hadis awal kitab Akhlak Ahlil Qur'an karya Al-Ajurri menjelaskan kedudukan ahlul Quran sebagai keluarga Allah dan janji naik derajat bagi pembacanya.
Pembuka Kitab yang Menentukan Arah
Kitab Akhlak Ahlil Qur'an karya Al-Ajurri membuka pembahasannya dengan deretan hadis tentang kedudukan orang yang hidup bersama Al-Qur'an. Peletakan ini bukan kebetulan. Sebelum berbicara tentang adab, tajwid, dan tata cara talaqqi, penulis menegaskan dulu siapa yang sedang dibicarakan. Yakni mereka yang di dalam teks kitab disebut dengan istilah yang diterjemahkan sebagai ahlul Quran.
Pada halaman-halaman awal, Al-Ajurri menghimpun riwayat dari jalur Anas bin Malik dan Abdullah bin Amr. Dua jalur ini memberi dua sisi pandang. Satu sisi menyangkut kedudukan, sisi lain menyangkut akhir perjalanan seorang pembaca Al-Qur'an.
Hadis Anas bin Malik: Ahlul Quran sebagai Keluarga Allah
Riwayat pertama pada halaman 45 disampaikan melalui jalur yang berujung kepada Anas bin Malik. Matan hadisnya memuat dialog singkat antara Nabi ﷺ dan para sahabat. Nabi ﷺ menyebut bahwa Allah memiliki keluarga di antara manusia. Para sahabat bertanya siapa mereka. Jawaban Nabi ﷺ menjadi inti riwayat ini.
مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لِلَّهِ مِنَ النَّاسِ أَهْلُونَ» (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 45)
Redaksi di atas memuat dua kata kunci. Pertama, ahlul Quran disebut sebagai keluarga Allah. Kedua, mereka disebut sebagai orang-orang pilihan-Nya. Pemakaian kata keluarga di sini tentu bukan dalam arti nasab. Sebab nasab tidak ditentukan oleh hafalan atau bacaan. Yang dimaksud adalah kedekatan khusus yang lahir dari hubungan seseorang dengan kitab Allah.
Al-Ajurri tidak berhenti pada satu jalur. Pada halaman 48 ia membawakan riwayat serupa melalui jalur lain, masih dari Anas bin Malik. Redaksinya sedikit berbeda, tetapi intinya sama. Perhatikan teks aslinya berikut.
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ» قِيلَ: (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 48)
Dua riwayat di atas saling menguatkan. Bagi pembaca kitab, penyajian dua jalur ini menunjukkan bahwa penulis memang ingin menegaskan keutamaan ahlul Quran sebelum masuk ke pembahasan yang lebih teknis. Ia tidak menumpukan seluruh argumen pada satu riwayat saja.
Apa yang Bisa Dipetik dari Riwayat Ini
Ada beberapa hal yang tampak jelas dari matan hadis di atas. Pertama, ahlul Quran mendapat sebutan kehormatan yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Kedua, sebutan itu berkaitan langsung dengan Al-Qur'an, bukan dengan status sosial atau keturunan. Ketiga, kehormatan tersebut datang dari Allah sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam jawaban Nabi ﷺ.
Yang perlu dicatat, istilah ahlul Quran dalam teks kitab tidak dirinci lebih jauh pada halaman-halaman awal ini. Al-Ajurri tidak langsung memberi batasan operasional tentang siapa yang masuk kategori tersebut. Pembaca diajak menerima dulu keutamaan itu, lalu mengikuti pembahasan berikutnya untuk memahami konsekuensi akhlaknya.
Hadis Abdullah bin Amr: Membaca dan Naik Derajat
Riwayat ketiga pada halaman 48 datang dari jalur Abdullah bin Amr. Isinya berbeda arah. Jika dua riwayat sebelumnya berbicara tentang kedudukan di dunia, riwayat ini berbicara tentang peristiwa di hari kiamat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ada seruan kepada orang yang menyertai Al-Qur'an.
يَوْمَ الْقِيَامَةِ: اقْرَأْ وَارْقَ فِي الدَّرَجَاتِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ كُنْتَ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 48)
Matan di atas memuat tiga perintah sekaligus. Pertama, perintah membaca. Kedua, perintah naik ke derajat yang lebih tinggi. Ketiga, perintah mentartilkan bacaan sebagaimana ia mentartilkan di dunia. Lalu ditutup dengan keterangan bahwa kedudukan akhir seseorang ditentukan oleh ayat terakhir yang ia baca.
Susunan redaksi ini menarik untuk dicermati. Perintah membaca tidak berdiri sendiri. Ia dirangkai dengan perintah naik. Artinya, aktivitas membaca di dunia memiliki kelanjutan berupa kenaikan derajat. Hubungan antara bacaan dan derajat tidak terputus pada batas kematian.
Tartil sebagai Syarat, Bukan Hiasan
Salah satu kata yang menonjol dalam matan di atas adalah perintah mentartilkan bacaan. Nabi ﷺ menyebutnya dengan ungkapan yang menghubungkan tartil di akhirat dengan tartil di dunia. Dari sini tampak bahwa tartil bukan sekadar keindahan suara. Ia adalah cara membaca yang diakui dan diperhitungkan.
Bagi pembaca yang menekuni talaqqi dan musyafahah, riwayat ini memberi landasan yang kuat. Tartil dipelajari dengan cara menyimak dan menyimak ulang, bukan dengan menebak. Karena itu, kitab-kitab qiraat seperti As-Syatibiyyah, Ad-Durrah, dan Thayyibah An-Nashr menempatkan periwayatan lisan sebagai jalur utama. Sanad dan ijazah menjaga bacaan tetap sampai kepada generasi awal.
Al-Ajurri sendiri tidak menguraikan panjang lebar tentang tartil pada halaman-halaman awal ini. Ia hanya menyajikan matan hadis. Pembaca yang ingin mendalami istilah tartil akan menemukan pembahasannya pada bagian lain kitab atau pada kitab-kitab tajwid yang khusus membahasnya.
Susunan Tiga Riwayat dan Arah Pembicaraan
Melihat urutan tiga riwayat di atas, ada pola yang bisa dibaca. Riwayat pertama dan kedua berbicara tentang posisi ahlul Quran di sisi Allah. Riwayat ketiga berbicara tentang ganjaran di akhirat. Pola ini bergerak dari pengakuan menuju pembuktian. Penulis seolah berkata bahwa kedudukan yang disebut dalam dua riwayat awal bukan gelar kosong. Ia memiliki konsekuensi nyata pada hari kemudian.
Pola semacam ini lazim dalam kitab-kitab akhlak. Penulis menempatkan dasar keutamaan lebih dulu, baru kemudian membahas kewajiban dan larangan. Dengan cara itu, pembaca tidak merasa sedang dihadapi deretan aturan tanpa alasan. Ia diajak memahami dulu mengapa aturan itu penting.
Kaitan dengan Pembahasan Akhlak Selanjutnya
Judul kitab memuat kata akhlak. Karena itu, pembaca semestinya tidak berhenti pada kekaguman terhadap keutamaan. Keutamaan ahlul Quran dalam kitab ini selalu diarahkan pada tuntutan perilaku. Orang yang disebut sebagai keluarga Allah tentu tidak boleh berperilaku sembarangan terhadap kitab yang membuatnya menyandang sebutan itu.
Al-Ajurri menyusun kitabnya dengan urutan yang mendukung arah tersebut. Halaman-halaman awal berisi keutamaan. Halaman-halaman berikutnya berisi adab terhadap Al-Qur'an, adab terhadap guru, dan adab dalam majelis. Semua itu berdiri di atas fondasi yang sudah diletakkan pada bagian pembuka.
Bagi pembaca masa kini, urutan ini bisa menjadi pengingat. Menghafal dan membaca Al-Qur'an adalah jalan panjang. Di dalamnya ada talaqqi, ada musyafahah, ada sanad, dan ada ijazah. Semua proses itu punya nilai, tetapi tujuannya bukan sekadar penguasaan teknis. Tujuannya adalah terbentuknya akhlak yang sepadan dengan sebutan ahlul Quran.
Cara Membaca Riwayat-Riwayat Ini Secara Utuh
Ada dua kesalahan umum ketika membaca hadis-hadis keutamaan seperti di atas. Pertama, mengambil potongan matan lalu meninggalkan konteks kitabnya. Kedua, membaca keutamaan sebagai jaminan otomatis tanpa melihat tuntutan yang menyertainya. Keduanya bisa dihindari dengan membaca kitab secara berurutan, dari halaman awal hingga pembahasan adab.
Pada halaman-halaman awal ini, Al-Ajurri tidak memberi tafsir panjang. Ia membiarkan matan hadis berbicara. Karena itu, pembaca perlu berhati-hati agar tidak menambahkan penafsiran yang tidak ada dasarnya. Yang bisa dilakukan adalah mencatat kata kunci yang muncul, seperti keluarga Allah, pilihan-Nya, membaca, naik derajat, dan tartil. Kata-kata itu menjadi benang merah pembahasan berikutnya.
Menghubungkan dengan Cabang Ilmu Lain
Pembahasan tentang tartil pada riwayat Abdullah bin Amr bersinggungan dengan ilmu qiraat. Pembahasan tentang kedudukan ahlul Quran bersinggungan dengan ilmu akhlak dan tasawuf. Pembahasan tentang sanad bersinggungan dengan ilmu hadis. Karena itu, kitab Akhlak Ahlil Qur'an bisa dibaca sebagai pintu masuk yang menghubungkan beberapa cabang ilmu sekaligus.
Bagi penuntut ilmu yang sedang menempuh talaqqi, membaca bagian pembuka kitab ini bermanfaat sebagai penyelaras niat. Sebelum menambah hafalan, ia diingatkan bahwa yang sedang ia tekuni bukan sekadar keterampilan. Ada kedudukan yang disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik, dan ada janji derajat yang disebutkan dalam riwayat Abdullah bin Amr.
Ringkasan Isi Halaman Awal
Tiga riwayat pada halaman 45 dan 48 kitab Akhlak Ahlil Qur'an memberi gambaran jelas tentang arah kitab. Riwayat dari Anas bin Malik menyebut ahlul Quran sebagai keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya. Riwayat dari Abdullah bin Amr menyebut perintah membaca dan naik derajat pada hari kiamat, dengan tartil sebagai ukuran.
Al-Ajurri menyusun ketiganya secara berurutan tanpa banyak komentar. Pembaca diajak menyimak matan, mencatat kata kunci, lalu melanjutkan ke pembahasan akhlak. Dengan cara ini, keutamaan tidak berhenti sebagai bahan kagum. Ia menjadi dasar bagi tuntutan perilaku yang dijelaskan pada bagian-bagian berikutnya.
FAQ
Apa inti hadis Anas bin Malik tentang ahlul Quran? Hadis itu menyebut bahwa ahlul Quran adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya, sebagaimana termuat pada halaman 45 dan 48 kitab Akhlak Ahlil Qur'an.
Apa isi hadis Abdullah bin Amr tentang membaca dan naik derajat? Pada hari kiamat dikatakan kepada orang yang menyertai Al-Qur'an agar membaca dan naik derajat, serta mentartilkan bacaan sebagaimana ia mentartilkan di dunia. Kedudukannya ditentukan oleh ayat terakhir yang ia baca.
Mengapa Al-Ajurri meletakkan hadis keutamaan di awal kitab? Karena kitab ini membahas akhlak ahlil quran. Keutamaan diletakkan lebih dulu sebagai dasar sebelum pembaca masuk ke pembahasan adab dan tuntutan perilaku.
Apakah tartil dalam hadis itu hanya soal keindahan suara? Tidak. Matan hadis menghubungkan tartil di akhirat dengan tartil di dunia. Karena itu tartil adalah cara membaca yang diperhitungkan, bukan sekadar hiasan suara.
Bagaimana cara membaca bagian pembuka kitab ini dengan tepat? Bacalah berurutan dari halaman awal, catat kata kunci dalam matan, lalu lanjutkan ke pembahasan adab. Hindari mengambil potongan matan tanpa melihat konteks kitabnya.
Referensi
- أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 45, 48
Pertanyaan umum
Apa inti hadis Anas bin Malik tentang ahlul Quran?
Hadis itu menyebut bahwa ahlul Quran adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya, sebagaimana termuat pada halaman 45 dan 48 kitab Akhlak Ahlil Qur'an.
Apa isi hadis Abdullah bin Amr tentang membaca dan naik derajat?
Pada hari kiamat dikatakan kepada orang yang menyertai Al-Qur'an agar membaca dan naik derajat, serta mentartilkan bacaan sebagaimana ia mentartilkan di dunia. Kedudukannya ditentukan oleh ayat terakhir yang ia baca.
Mengapa Al-Ajurri meletakkan hadis keutamaan di awal kitab?
Karena kitab ini membahas akhlak ahlil quran. Keutamaan diletakkan lebih dulu sebagai dasar sebelum pembaca masuk ke pembahasan adab dan tuntutan perilaku.
Apakah tartil dalam hadis itu hanya soal keindahan suara?
Tidak. Matan hadis menghubungkan tartil di akhirat dengan tartil di dunia. Karena itu tartil adalah cara membaca yang diperhitungkan, bukan sekadar hiasan suara.
Bagaimana cara membaca bagian pembuka kitab ini dengan tepat?
Bacalah berurutan dari halaman awal, catat kata kunci dalam matan, lalu lanjutkan ke pembahasan adab. Hindari mengambil potongan matan tanpa melihat konteks kitabnya.