Membaca Al-Qur'an dengan Tartil: Derajat dan Pahala Menurut Hadis-Hadis Akhlak Ahlil Qur'an
Tartil menentukan derajat pembaca Al-Qur'an di akhirat. Al-Ajurri meriwayatkan hadis tentang pahala per huruf dan tingkatan surga bagi ahlul Qur'an.
Tartil sebagai Ukuran Derajat
Di antara bab dalam kitab Akhlak Ahlil Qur'an karya Al-Ajurri, ada satu bagian yang membahas keutamaan membaca Al-Qur'an dan pahala yang disiapkan bagi pembacanya. Bagian ini tidak berbicara tentang teknik suara atau irama. Fokusnya pada tartil sebagai ukuran derajat di akhirat.
Rasulullah ﷺ menyebut tartil sebagai penentu tempat terakhir seorang pembaca. Riwayat pertama dalam bab ini menyebutkan sabda beliau: سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمٍ عَنْ زِرٍّ، وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَعَنِ النَّبِيِّ ﷺ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 49).
Hadis ini memberi gambaran yang jelas. Perjalanan di akhirat berhenti pada ayat terakhir yang dibaca. Bukan pada jumlah surah yang dihafal. Bukan pula pada panjangnya waktu khatam. Tartil di dunia menjadi dasar derajat di sana.
Kata tartil sendiri sudah dikenal dalam pembahasan tajwid. Ia berarti membaca dengan tenang, memberi hak setiap huruf, dan tidak tergesa. Namun dalam hadis di atas, tartil berubah fungsi. Ia bukan sekadar pedoman bacaan. Ia menjadi standar yang mengikat antara amal dunia dan kedudukan akhirat.
Al-Ajurri menempatkan hadis ini di awal bab. Posisi itu memberi isyarat bahwa tartil adalah pintu masuk pembahasan akhlak ahlul Qur'an. Sebelum berbicara tentang adab, ia menetapkan dulu ukuran derajat.
Jumlah Ayat dan Jumlah Derajat
Riwayat berikutnya memperkuat gambaran tersebut. Ummu Ad-Darda' bertanya kepada Aisyah tentang keutamaan orang yang membaca Al-Qur'an dibanding yang tidak membacanya. Jawaban Aisyah menegaskan hubungan antara ayat dan derajat: مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ: ⦗٥٠⦘ وَرَوِيَ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 49).
Dari keterangan ini, jumlah derajat di surga sepadan dengan jumlah ayat Al-Qur'an. Pembaca Al-Qur'an yang masuk surga menempati posisi tertinggi. Tidak ada yang melebihi kedudukannya.
Pernyataan Aisyah ini bukan sekadar angka. Ia menjelaskan logika pahala. Setiap ayat yang dibaca di dunia bersambung dengan satu tingkatan di akhirat. Karena itu, memperbanyak bacaan berarti memperbanyak persiapan untuk naik.
Perlu dicatat, riwayat ini datang melalui jalur Ummu Ad-Darda'. Al-Ajurri menyebutnya sebagai riwayat yang disampaikan darinya. Teks aslinya memuat pertanyaan tentang keutamaan itu secara langsung, tanpa perantara panjang.
Pahala Sepuluh Kebaikan untuk Setiap Huruf
Bab yang sama memuat hadis lain tentang pahala tilawah. Hadis ini menegaskan bahwa upah membaca tidak dihitung per ayat atau per surah. Hitungannya per huruf. Rasulullah ﷺ bersabda: عَاصِمٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ الْهَجَرِيِّ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 52).
Bagian akhir hadis itu menjelaskan contohnya. Beliau menolak anggapan bahwa satu ayat tertentu bernilai sepuluh. Yang dihitung adalah hurufnya satu per satu, masing-masing sepuluh kebaikan.
Di sini kita melihat cara Nabi ﷺ mengoreksi pemahaman. Sahabat mungkin mengira pahala dihitung per ayat. Nabi ﷺ memindahkan hitungan itu ke satuan yang lebih kecil, yaitu huruf. Hasilnya, jumlah kebaikan yang terbuka bagi pembaca menjadi jauh lebih besar.
Hadis ini juga menyebut Al-Qur'an sebagai hidangan Allah. Ungkapan itu memberi makna tambahan. Membaca bukan beban, tetapi undangan untuk mengambil bagian dari hidangan tersebut. Karena itu, Nabi ﷺ mendorong para sahabat mengambil sebanyak yang mereka mampu.
Pada bagian lanjutan hadis, disebutkan pula sifat-sifat Al-Qur'an. Ia adalah tali Allah, cahaya yang terang, penyembuh yang bermanfaat, keselamatan bagi yang mengikutinya, dan pelindung bagi yang berpegang padanya. Semua sifat ini memperkuat alasan mengapa tilawah layak diperbanyak.
Riwayat Ibnu Mas'ud tentang Hitungan Huruf
Al-Ajurri juga mencatat perkataan Ibnu Mas'ud yang senada dengan hadis sebelumnya. Ibnu Mas'ud mendorong para pembaca mempelajari Al-Qur'an dan membacanya, karena mereka akan diberi upah. Setiap nama dalam Al-Qur'an bernilai sepuluh. Ia lalu menegaskan bahwa huruf-huruf tertentu dihitung masing-masing sepuluh, bukan rangkaiannya sekaligus: السَّائِبِ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، وَأَبِي الْبَخْتَرِيِّ أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، قَالَ: تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاتْلُوهُ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 54).
Riwayat ini menunjukkan bahwa cara pandang terhadap pahala tilawah sudah terbentuk di kalangan sahabat. Ibnu Mas'ud mengulang penjelasan Nabi ﷺ dengan redaksi yang sedikit berbeda. Intinya tetap sama. Hitungan pahala jatuh pada huruf.
Bagi pembaca modern, keterangan ini punya konsekuensi praktis. Membaca dengan tartil berarti memperlambat bacaan. Namun perlambatan itu tidak mengurangi pahala. Justru sebaliknya, setiap huruf yang ditunaikan haknya tetap dihitung sepuluh kebaikan.
Mengapa Tartil Penting bagi Ahlul Qur'an
Dari tiga riwayat di atas, beberapa hal bisa ditarik sebagai pelajaran. Pertama, tartil menentukan derajat akhirat. Kedua, jumlah derajat sepadan dengan jumlah ayat. Ketiga, pahala tilawah dihitung per huruf.
Ketiga hal itu saling menguatkan. Tartil membuat bacaan lebih lambat dan lebih teliti. Bacaan yang teliti menambah jumlah huruf yang ditunaikan dengan benar. Jumlah huruf yang benar menambah pahala. Pahala itu bersambung dengan derajat di surga.
Al-Ajurri tidak menyusun bab ini sebagai panduan teknis tajwid. Ia menyusunnya sebagai dasar akhlak. Sebelum membahas adab terhadap mushaf, adab terhadap guru, dan adab dalam majelis, ia menetapkan dulu mengapa Al-Qur'an layak diperlakukan istimewa.
Dalam kerangka itu, tartil bukan hiasan suara. Ia bentuk penghormatan terhadap setiap huruf yang diucapkan. Seseorang yang membaca dengan tartil mengakui bahwa setiap huruf punya hak. Hak itu ditunaikan di dunia, dan dibalas dengan derajat di akhirat.
Hubungan dengan Ilmu Tajwid
Pembahasan tartil dalam kitab ini sejalan dengan ilmu tajwid yang berkembang kemudian. Kitab-kitab seperti As-Syatibiyyah, Ad-Durrah, dan Thayyibah An-Nashr membahas kaidah bacaan secara rinci. Semua kaidah itu bertujuan menunaikan hak huruf.
Namun Al-Ajurri menempatkan tartil pada ranah yang lebih dasar. Ia tidak membahas makhraj atau sifat huruf. Ia membahas hubungan antara bacaan dan balasan. Dengan begitu, tartil menjadi jembatan antara ilmu bacaan dan akhlak pembaca.
Pembaca yang mempelajari tajwid lewat talaqqi dan musyafahah akan merasakan hubungan ini. Guru yang menyimak bacaan secara langsung dapat menilai tartil, bukan hanya benar atau salahnya huruf. Penilaian itu mencakup ketenangan, kelancaran, dan kesesuaian dengan kaidah.
Catatan tentang Sanad Riwayat
Al-Ajurri menyebut jalur periwayatan untuk setiap hadis dalam bab ini. Jalur pertama melalui Abu Abdillah Ahmad bin Al-Hasan bin Abdil Jabbar Ash-Shufi, lalu Syuja' bin Makhlad, Al-Fadhl bin Dukain, dan Sufyan. Jalur kedua melalui Abu Al-Fadhl Ja'far bin Muhammad Ash-Shandali, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za'farani, Ali bin Ashim, Ibrahim Al-Hajari, dan Abu Al-Ahwash. Jalur ketiga melalui jalur yang sama dengan periwayat berbeda di tingkat bawah.
Penyebutan jalur ini penting dalam tradisi kitab hadis. Ia menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tersebut sampai kepada penulis melalui rangkaian guru yang jelas. Bagi pembaca yang menekuni ilmu riwayat, jalur ini bisa ditelusuri lebih lanjut.
Namun inti bab ini bukan pada sanad. Inti bab ini pada matan. Pesan yang ingin disampaikan Al-Ajurri adalah pesan tentang tartil, derajat, dan pahala. Sanad menjadi penguat bahwa pesan itu benar-benar bersumber dari Nabi ﷺ dan para sahabat.
Penerapan Praktis
Dari pembahasan di atas, ada beberapa langkah yang bisa Anda terapkan. Pertama, biasakan membaca dengan tempo yang memungkinkan setiap huruf ditunaikan. Kedua, jangan terburu mengejar jumlah halaman. Ketiga, perlakukan setiap ayat sebagai satu tingkatan yang sedang Anda siapkan.
Langkah keempat, pelajari kaidah bacaan secara bertahap. Ilmu tajwid membantu Anda menunaikan hak huruf. Tanpa kaidah, tartil sulit dijaga konsistensinya. Langkah kelima, simak bacaan guru atau qari yang mumpuni. Musyafahah membuat perbaikan bacaan lebih cepat.
Semua langkah itu bertumpu pada satu prinsip. Tartil bukan target sekali jadi. Ia kebiasaan yang dibangun perlahan. Al-Ajurri menempatkannya sebagai ukuran derajat, karena itu ia layak dijadikan kebiasaan harian.
Penutup
Kitab Akhlak Ahlil Qur'an karya Al-Ajurri menempatkan tartil di pusat pembahasan tentang pahala tilawah. Tiga riwayat dalam bab ini memberi gambaran utuh. Derajat akhirat ditentukan oleh ayat terakhir yang dibaca. Jumlah derajat sepadan dengan jumlah ayat. Pahala tilawah dihitung per huruf, masing-masing sepuluh kebaikan.
Bagi Anda yang ingin memperbaiki hubungan dengan Al-Qur'an, pesan ini cukup jelas. Bacalah dengan tartil. Perlambat tempo. Tunaikan hak setiap huruf. Sisakan waktu untuk menyimak bacaan guru. Derajat yang dijanjikan tidak datang dari jumlah halaman, tetapi dari kualitas bacaan yang dijaga.
FAQ
Apa yang dimaksud tartil dalam hadis ini? Tartil berarti membaca dengan tenang dan menunaikan hak setiap huruf. Dalam hadis riwayat Al-Ajurri, tartil di dunia menjadi dasar derajat di akhirat.
Berapa pahala membaca Al-Qur'an menurut hadis dalam kitab Al-Ajurri? Hadis menyebutkan sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Hitungan ini berlaku per huruf, bukan per ayat atau per surah.
Apakah jumlah derajat surga sepadan dengan jumlah ayat Al-Qur'an? Riwayat dari Aisyah menyebutkan bahwa jumlah derajat surga sepadan dengan jumlah ayat. Pembaca Al-Qur'an yang masuk surga menempati posisi tertinggi.
Siapa yang meriwayatkan hadis tentang derajat pembaca Al-Qur'an? Hadis tentang derajat pada ayat terakhir diriwayatkan melalui jalur Abu Abdillah Ash-Shufi dan seterusnya. Riwayat tentang jumlah derajat disampaikan dari Ummu Ad-Darda' dari Aisyah.
Apa hubungan tartil dengan ilmu tajwid? Tartil dan tajwid sama-sama menekankan hak huruf. Tajwid membahas kaidahnya, sedangkan tartil dalam kitab ini dikaitkan dengan balasan dan derajat di akhirat.
Referensi
- أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 49, 52, 54
Pertanyaan umum
Apa yang dimaksud tartil dalam hadis ini?
Tartil berarti membaca dengan tenang dan menunaikan hak setiap huruf. Dalam hadis riwayat Al-Ajurri, tartil di dunia menjadi dasar derajat di akhirat.
Berapa pahala membaca Al-Qur'an menurut hadis dalam kitab Al-Ajurri?
Hadis menyebutkan sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Hitungan ini berlaku per huruf, bukan per ayat atau per surah.
Apakah jumlah derajat surga sepadan dengan jumlah ayat Al-Qur'an?
Riwayat dari Aisyah menyebutkan bahwa jumlah derajat surga sepadan dengan jumlah ayat. Pembaca Al-Qur'an yang masuk surga menempati posisi tertinggi.
Siapa yang meriwayatkan hadis tentang derajat pembaca Al-Qur'an?
Hadis tentang derajat pada ayat terakhir diriwayatkan melalui jalur Abu Abdillah Ash-Shufi dan seterusnya. Riwayat tentang jumlah derajat disampaikan dari Ummu Ad-Darda' dari Aisyah.
Apa hubungan tartil dengan ilmu tajwid?
Tartil dan tajwid sama-sama menekankan hak huruf. Tajwid membahas kaidahnya, sedangkan tartil dalam kitab ini dikaitkan dengan balasan dan derajat di akhirat.