Hadis "Khairukum Man Ta'allama Al-Qur'an wa 'Allamahu": Sanad dan Pengamalannya Menurut Al-Ajurri

Telaah sanad hadis khairukum man ta'allama al-Qur'an wa 'allamahu menurut Al-Ajurri, lengkap dengan jalur riwayat dan pengamalan para ahlul Qur'an.

Indonesia 8 menit baca

Hadis "Khairukum Man Ta'allama Al-Qur'an wa 'Allamahu": Sanad dan Pengamalannya Menurut Al-Ajurri

Hadis yang Menjadi Poros Pembahasan

Al-Ajurri mencantumkan satu hadis yang sering dikutip dalam kajian keutamaan Al-Qur'an. Redaksinya ringkas, tetapi maknanya mengarahkan seluruh pembahasan tentang siapa yang layak disebut ahlul Qur'an. Teks matannya berbunyi قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» (١) . (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61).

Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur. Al-Ajurri menampilkan jalur dari Utsman bin Affan, jalur dari Ali bin Abi Thalib, dan jalur dari Sa'd bin Abi Waqqash. Ketiga jalur bermuara pada matan yang sama. Perbedaan terletak pada susunan perawi dan pada tambahan penjelasan setelah matan.

Jalur Pertama: Dari Utsman bin Affan

Jalur pertama dimulai dari Abu Syu'aib Abdullah bin Al-Hasan Al-Harrani. Ia menerima dari Ali bin Al-Ja'd, lalu dari Syu'bah. Syu'bah menerima dari Alqamah bin Martsad, yang mendengar Sa'd bin Ubaidah menyampaikan riwayat dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Utsman bin Affan. Redaksi lengkapnya dapat dilihat pada sumber yang tercantum di bagian Referensi.

Ada catatan penting pada jalur ini. Syu'bah bertanya kepada gurunya apakah riwayat itu benar-benar disandarkan kepada Nabi ﷺ. Pertanyaan itu muncul karena sebagian riwayat berhenti pada sahabat. Jawabannya menegaskan bahwa sanad memang marfu' kepada Nabi ﷺ. Penegasan ini memperkuat kedudukan hadis, bukan sekadar perkataan sahabat.

Setelah matan, Abu Abdurrahman As-Sulami memberi keterangan tentang dirinya. Ia menyebut bahwa hadis inilah yang membuatnya duduk di tempat pengajaran. Ia mengajar Al-Qur'an sejak masa kekhalifahan Utsman hingga masa pemerintahan Al-Hajjaj. Keterangan itu tercatat sebagai berikut قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ: فَذَلِكَ أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا، فَكَانَ يُعَلِّمُ مِنْ خِلَافَةِ عُثْمَانَ إِلَى إِمْرَةِ الْحَجَّاجِ (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61).

Keterangan tersebut menunjukkan kesinambungan pengamalan. Hadis tidak berhenti sebagai bahan hafalan. Abu Abdurrahman menjadikannya alasan untuk menetap dan mengajarkan Al-Qur'an selama puluhan tahun. Rentang waktu dari masa Utsman sampai Al-Hajjaj menandakan usia pengajaran yang panjang.

Jalur Kedua: Dari Ali bin Abi Thalib

Jalur kedua datang melalui Abu Ja'far Ahmad bin Yahya Al-Hulwani. Ia menerima dari Faidh bin Watsiq, dari Abdul Wahid bin Zaid, dari Abdurrahman bin Ishaq, dari An-Nu'man bin Sa'd, dari Ali bin Abi Thalib. Redaksi lengkapnya dapat dilihat pada sumber yang tercantum di bagian Referensi.

Susunan perawi pada jalur ini berbeda dari jalur pertama. Namun matan yang disampaikan tetap sama. Al-Ajurri tampaknya sengaja menghimpun beberapa jalur untuk memperlihatkan bahwa hadis ini diterima dari lebih dari satu sahabat.

Bagi pembaca yang menekuni ilmu riwayat, keberagaman jalur memberi nilai tambah. Satu jalur bisa mengandung kelemahan pada perawi tertentu. Jalur lain menutup celah itu. Al-Ajurri tidak menulis penilaian panjang atas setiap perawi dalam bagian ini. Ia membiarkan pembaca melihat sendiri susunan sanad yang ia bawakan.

Jalur Ketiga: Dari Sa'd bin Abi Waqqash

Jalur ketiga berasal dari Abu Khubaib Al-Abbas bin Ahmad Al-Burti. Ia menerima dari Abdullah bin Muawiyah Al-Jumahi, dari Al-Harits bin Nabhan, dari Ashim bin Bahdalah, dari Mush'ab bin Sa'd, dari ayahnya. Sa'd bin Abi Waqqash menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ ١٧ - حَدَّثَنَا أَبُو خُبَيْبٍ الْعَبَّاسُ بْنُ أَحْمَدَ الْبُرْتِيُّ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ قَالَ: نا الْحَارِثُ بْنُ نَبْهَانَ قَالَ: نا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» (١) . قَالَ: وَأَخَذَ بِيَدِي فَأَقْعَدَنِي فِي مَجْلِسِي أُقْرِئُ. (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 66).

Pada jalur ini terdapat tambahan setelah matan. Perawi menyebut bahwa Nabi ﷺ mengambil tangannya dan mendudukkannya di majelis tempat ia mengajar Al-Qur'an. Teks aslinya قَالَ: وَأَخَذَ بِيَدِي فَأَقْعَدَنِي فِي مَجْلِسِي أُقْرِئُ. (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 66).

Tambahan itu sejalan dengan keterangan pada jalur pertama. Dua jalur berbeda sama-sama mencatat dampak pengajaran setelah hadis disampaikan. Yang satu berupa keterangan lisan dari Abu Abdurrahman. Yang lain berupa perbuatan yang diriwayatkan dari Sa'd. Keduanya mengarah pada satu titik, hadis ini mendorong lahirnya majelis pengajaran Al-Qur'an.

Perhatian Al-Ajurri pada Sanad

Al-Ajurri menyusun kitabnya dengan cara khas ahli hadis. Setiap riwayat dibuka dengan rangkaian guru dan perawi. Ia menyebut nama lengkap, kadang dengan nisbah daerah seperti Al-Harrani dan Al-Hulwani. Cara ini memudahkan peneliti memeriksa ketersambungan sanad.

Perhatian pada sanad bukan formalitas. Melalui sanad, kutipan bahwa suatu ucapan berasal dari Nabi ﷺ dapat diuji. Pada jalur Utsman, pertanyaan Syu'bah menunjukkan bahwa para perawi sendiri teliti soal penyandaran. Mereka tidak menerima riwayat begitu saja tanpa memastikan sumbernya.

Al-Ajurri juga tidak menghapus pertanyaan kritis itu dari catatan. Ia justru membawanya. Dengan begitu, pembaca melihat proses verifikasi yang terjadi di kalangan perawi. Sikap ini mencerminkan tradisi talaqqi dan musyafahah, yaitu penerimaan riwayat secara langsung dari guru, bukan sekadar membaca catatan.

Makna "Khairukum" dalam Hadis

Kata khairukum dalam matan tidak menunjuk pada keunggulan status sosial. Hadis ini menetapkan ukuran keutamaan pada dua hal, belajar dan mengajarkan. Keduanya disebut berurutan. Belajar mendahului mengajar.

Urutan itu penting. Seseorang tidak dapat mengajarkan Al-Qur'an dengan benar tanpa lebih dahulu menimba ilmu. Karena itu, para ulama menekankan tahapan talaqqi. Murid menerima bacaan dari guru, memperbaiki makhraj dan tajwid, lalu mengulang hingga benar. Setelah itu ia menyampaikan kepada orang lain dengan cara yang sama.

Hadis ini juga tidak membatasi pengajaran pada bacaan saja. Pengajaran mencakup pemahaman, adab, dan pengamalan. Namun dasar semuanya tetap bacaan yang benar. Dari bacaan yang benar lahir pemahaman yang lurus. Dari pemahaman yang lurus lahir akhlak ahlil Qur'an yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Pengamalan Para Ahlul Qur'an

Keterangan Abu Abdurrahman As-Sulami memberi contoh nyata. Ia menjadikan pengajaran Al-Qur'an sebagai pekerjaan utama. Ia duduk di satu majelis, menerima murid, dan membacakan Al-Qur'an. Rentang waktunya panjang, melintasi pergantian kekuasaan.

Contoh ini menunjukkan bahwa mengajarkan Al-Qur'an bukan pekerjaan sambilan. Ia menuntut kesabaran, waktu, dan ketekunan. Murid datang dengan kemampuan berbeda. Guru harus menyesuaikan cara penyampaian tanpa menurunkan mutu bacaan.

Al-Ajurri menghimpun riwayat ini dalam rangkaian bab tentang keutamaan orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an. Letak riwayat itu penting. Ia dibaca dalam konteks dorongan, bukan sekadar informasi sejarah. Pembaca diarahkan untuk meneladani semangat para pendahulu.

Kaitan dengan Adab dan Akhlak

Hadis ini sering dikutip dalam kajian adab. Salah satu sebabnya, hadis menempatkan pengajaran sebagai bagian dari keutamaan. Orang yang mengajarkan Al-Qur'an dituntut menjaga adabnya sendiri. Ia menjadi rujukan bacaan bagi murid. Kesalahan kecil pada bacaannya dapat menular.

Karena itu, para guru Al-Qur'an menempuh jalur ijazah. Mereka menerima bacaan dari guru yang bersanad, lalu mengajarkannya dengan cara musyafahah. Bacaan seperti As-Syatibiyyah, Ad-Durrah, dan Thayyibah An-Nashr dipelajari melalui talaqqi langsung. Jalur ini menjaga ketepatan bacaan dari generasi ke generasi.

Akhlak ahlil Qur'an juga tercermin pada cara mereka memperlakukan murid. Kesabaran Abu Abdurrahman mengajar selama bertahun-tahun menjadi gambaran. Ia tidak berhenti ketika keadaan politik berubah. Majelisnya tetap berjalan.

Cara Membaca Riwayat Ini Hari Ini

Pembaca dapat mengambil tiga pelajaran dari paparan Al-Ajurri. Pertama, hadis ini memiliki beberapa jalur yang saling menguatkan. Kedua, para perawi sendiri teliti dalam memastikan penyandaran kepada Nabi ﷺ. Ketiga, para sahabat dan tabiin mengamalkan hadis ini dengan membuka majelis pengajaran.

Langkah praktisnya sederhana. Bagi yang ingin belajar, carilah guru yang bersanad dan bersedia membimbing secara langsung. Bagi yang sudah belajar, ajarkan apa yang telah dikuasai dengan benar. Pengajaran tidak harus menunggu sempurna. Namun pengajaran harus tetap dijaga ketepatannya.

Al-Ajurri tidak menuntut setiap orang menjadi ahli qiraat. Ia menampilkan teladan para pengajar yang mengabdikan waktu untuk Al-Qur'an. Dari teladan itu, pembaca dapat menakar peran masing-masing, sekecil apa pun, dalam menjaga hubungan dengan Al-Qur'an.

FAQ

Apa redaksi hadis khairukum man ta'allama al-Qur'an wa 'allamahu?

Redaksi matannya tercatat dalam kitab Al-Ajurri قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» (١) . (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61). Hadis ini menetapkan bahwa sebaik-baik orang adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.

Berapa jalur sanad yang ditampilkan Al-Ajurri?

Al-Ajurri menampilkan tiga jalur. Jalur pertama dari Utsman bin Affan, jalur kedua dari Ali bin Abi Thalib, dan jalur ketiga dari Sa'd bin Abi Waqqash.

Mengapa Syu'bah bertanya tentang penyandaran hadis?

Syu'bah ingin memastikan riwayat itu benar-benar disandarkan kepada Nabi ﷺ, bukan hanya perkataan sahabat. Jawaban gurunya menegaskan bahwa sanad memang marfu'.

Apa dampak hadis ini pada Abu Abdurrahman As-Sulami?

Ia menyebut bahwa hadis inilah yang membuatnya menetap di tempat pengajaran. Ia mengajar Al-Qur'an sejak masa kekhalifahan Utsman hingga masa pemerintahan Al-Hajjaj.

Apa pelajaran utama dari paparan Al-Ajurri?

Hadis ini memiliki beberapa jalur yang saling menguatkan. Para perawi teliti soal penyandaran. Para pendahulu mengamalkannya dengan membuka majelis pengajaran Al-Qur'an secara berkesinambungan.

Referensi

  • أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61, 64, 66

Pertanyaan umum

Apa redaksi hadis khairukum man ta'allama al-Qur'an wa 'allamahu?

Redaksi matannya tercatat dalam kitab Al-Ajurri قَالَ: نَعَمْ قَالَ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» (١) . (أبو بكر محمد بن الحسين بن عبد الله الآجُرِّيُّ البغدادي, أخلاق أهل القرآن, jld. 1, hlm. 61, https://app.turath.io/book/10531?page=24). Hadis ini menetapkan bahwa sebaik-baik orang adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.

Berapa jalur sanad yang ditampilkan Al-Ajurri?

Al-Ajurri menampilkan tiga jalur. Jalur pertama dari Utsman bin Affan, jalur kedua dari Ali bin Abi Thalib, dan jalur ketiga dari Sa'd bin Abi Waqqash.

Mengapa Syu'bah bertanya tentang penyandaran hadis?

Syu'bah ingin memastikan riwayat itu benar-benar disandarkan kepada Nabi ﷺ, bukan hanya perkataan sahabat. Jawaban gurunya menegaskan bahwa sanad memang marfu'.

Apa dampak hadis ini pada Abu Abdurrahman As-Sulami?

Ia menyebut bahwa hadis inilah yang membuatnya menetap di tempat pengajaran. Ia mengajar Al-Qur'an sejak masa kekhalifahan Utsman hingga masa pemerintahan Al-Hajjaj.

Apa pelajaran utama dari paparan Al-Ajurri?

Hadis ini memiliki beberapa jalur yang saling menguatkan. Para perawi teliti soal penyandaran. Para pendahulu mengamalkannya dengan membuka majelis pengajaran Al-Qur'an secara berkesinambungan.