Qira'at Sepuluh: Sejarah, Sanad, dan Otentisitasnya
Telaah historis atas sepuluh qira'at yang mutawatir, menelusuri sanad-sanadnya hingga Rasulullah ﷺ dan kedudukan masing-masing dalam tradisi keilmuan Islam.
القراءات العشر وأسانيدها
Oleh: @basyiirun | Qira'at | Maret 2026
Ketika menyebut "qira'at Al-Qur'an", sebagian besar umat Islam hanya mengenal satu cara baca — riwayat Hafsh dari 'Ashim, yang mendominasi mushaf-mushaf yang beredar di Indonesia dan dunia. Namun sesungguhnya, para ulama qira'at telah mewariskan kepada kita sepuluh qira'at yang semuanya shahih, bersanad mutawatir, dan diterima oleh ijmak ulama. Ibnu al-Jazari dalam al-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr — ensiklopedia terlengkap dalam bidang ini — mendokumentasikan seluruhnya dengan detail yang luar biasa.
Dari Tujuh Menjadi Sepuluh
Imam Ibnu Mujahid (w. 324 H) adalah orang pertama yang mengkodifikasi tujuh qira'at dalam kitab al-Sab'ah. Namun pemilihan tujuh ini bukan berarti hanya ada tujuh qira'at shahih. Ibnu al-Jazari kemudian menegaskan dalam al-Nasyr bahwa selain tujuh tersebut, tiga imam lagi — Abu Ja'far al-Madani, Ya'qub al-Bashri, dan Khalaf al-Bazzar — juga memiliki qira'at yang sama shahih dan mutawatirnya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai al-qira'at al-'asyr al-mutawatirah.
Syarat Qira'at Shahihah
Ibnu al-Jazari merumuskan tiga syarat penerimaan qira'at: (1) sesuai dengan kaidah bahasa Arab walau dari satu sisi, (2) sesuai dengan rasm salah satu mushaf 'Utsmani, dan (3) shahih sanadnya. Jika ketiga syarat terpenuhi, qira'at tersebut wajib diterima sebagai qira'at shahihah — tidak peduli apakah mencapai derajat mutawatir atau tidak. Sebaliknya, qira'at yang cacat salah satu syarat disebut syadzdzah dan tidak boleh dibaca dalam shalat.
Para Imam Sepuluh
Tujuh imam pertama: Nafi' al-Madani, Ibnu Katsir al-Makki, Abu 'Amr al-Bashri, Ibnu 'Amir al-Syami, 'Ashim al-Kufi, Hamzah al-Zayyat, dan al-Kisa'i. Ditambah tiga: Abu Ja'far, Ya'qub, dan Khalaf. Masing-masing memiliki dua perawi utama yang meriwayatkan qira'atnya, sehingga total menjadi dua puluh riwayat yang terdokumentasi. Ibnu al-Jazari dalam Ghayat al-Nihayah menulis biografi lengkap seluruh imam dan perawi ini dengan ketelitian yang menjadi standar para peneliti hingga hari ini.
Relevansi bagi Penuntut Ilmu
Mempelajari keberagaman qira'at bukan sekadar pengetahuan historis. Ia membuka cakrawala pemahaman tafsir yang lebih luas — karena setiap qira'at bisa menjadi wajh (sudut pandang) tersendiri dalam memahami makna ayat. Para mufassir besar seperti Ibnu Jarir al-Thabari dan Ibnu 'Asyur secara rutin menyandarkan tafsir mereka pada perbedaan qira'at.
Referensi:
1. Ibn al-Jazari, al-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut.
2. Ibn al-Jazari, Ghayat al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra', Maktabah Ibn Taimiyyah.
3. Ahmad Daniyal Farius, al-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr: Studi Kualifikasi Qira'at Sepuluh, UIN Sunan Kalijaga, 2005.
4. Al-Sakhawi, Jamal al-Qurra' wa Kamal al-Iqra', Muassasat al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Beirut.